Bimtek Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah Dalam Supervisi Penulisan Soal Usbn 2017

Pertajam Kompetensi Agar Maksimal Lakukan Supervisi Guru

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menetapkan bahwa Ujian Nasional (UN) tahun 2017 tetap dilaksanakan. UN ditetapkan Kemendikbud untuk mengukur ketuntasan belajar siswa secara nasional. Kemendikbud juga telah menetapkan berlakunya Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) mulai tahun 2017. Soal USBN disusun oleh guru melalui MGMP dan dikawal oleh kepalasekolah yang tergabung dalam MKKS. Sebanyak 72% soal di susun melalui MGMP dan 25% soal dibuat oleh pusat.

Persentasi soal USBN oleh pusat sebesar 25% menunjukkan adanya intervensi. Pusat berkepentingan mengetahui ketuntasan belajar siswa tiap sekolah terhadap soal yang dibuat oleh pusat. USBN juga menjadi indikator ketuntasan belajar siswa yang diukur dalam skala kabupaten/kota. Selain UN dan USBN, di tiap sekolah juga masih berlaku Ujian Sekolah (US). Jika UN dan USBN waktu pelaksanaannya ditentukan secara nasional oleh pusat, pada US pelaksanaan dan materinya ditentukan sendiri oleh sekolah.

MEMPERTAJAM KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH

Menengok persiapan pelaksanaan USBN 2017, dapat dilihat khususnya partisipasi Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar dan Menengah denganmengacu pada tugas dan fungsinya. Melalui SubdirektoratPerencanaan Kebutuhan, Peningkatan Kualifikasi dan Kompetensi (Sudit PK PKK), pada awal Maret lalu menggelar Bimbingan Teknis Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah dalam Supervisi Penulisan Soal USBN 2017.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Grand Mercure, Jakarta Barat, tanggal 23 Februari hingga 1 Maret 2017 ini diikutisejumlah kepala sekolah yang tergabung dalam Musyawara �Kerja Kepala Sekolah (MKKS) jenjang SMA/SMK di tiap kabupaten/kota. Kepala sekolah yang dimaksud adalah kepala sekolah berprestasi yang memiliki komitmen tinggi terhadap kegiatan MKKS, penulisan soal USBN dan gerakan PPK.

Dalam memberi arahan kepada peserta, Ir. Ferry Yulmarino, M.Ed, Kepala Subdirektorat PKPKK mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan dengan beberapa tujuan. Di antaranya adalah agar kepala sekolah mampu melaksanakan fungsi supervisikepada guru dalam penyusunan soal Ujian Sekolah BerstandaNasional (USBN) SMA/SMK dan perangkatnya, untuk memperkuat pendidikan karakter yang akan diterapkan kepada peserta didik, serta memberi kesempatan kepala sekolah untuk berbagi pengalaman.

Terkaitsupervisi kepada guru, dijelaskan oleh Ferry. �Agar kepala sekolah dapat melakukan supervisi dengan baik, kita pertajam kompetensinya terkait penyusunan soal USBN. Sehingga kita bekali melalui bimbingan teknis ini. Selama kegiatan terdapat materi penyusunan soal, termasuk cara membuat kisi-kisi soal,� lanjut Ferry.

PERAN MKKS DALAM POS USBN

Ferry mengatakan, peran MKKS dalam penyusunan soal USBN dapat dilihat dalam Peraturan Direktur JenderalPendidikan Dasar dan Menengah Nomor 08/D/HK/2017 Tentang Prosedur Operasional Standar USBN Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2017. Peraturan ini selanjutnya dikenal dengan POS USBN. Dalam POS USBN terdapat dua peran MKKS yang meliputi:

  • Ketua MKKS menerima master naskah soal USBN berikut kelengkapannya dari MGMP dengan diketahui oleh Dinas Pendidikan Provinsi/kabupaten/kota.
  • Ketua MKKS mendistribusikan master soal naskah soal USBN kepala sekolah masing-masing

Dari peran MKKS dalam POS USBN, Ferry mengatakan bahwa tugas kepala sekolah adalah melakukan supervisi dan pendampingan terhadap guru sesuai dengan mata pelajaran yang di USBN-kan, serta menyusun soal USBN sesuai yang telah ditetapkan berdasarkan kurikulum yang berlaku. �Selanjutnya, MKKS ini menghasilkan 3 paket soal USBN, satu paket utama, satu paket susulan, dan satu paket cadangan untuk masing-masing mata pelajaran sesuai dengan kurikulum yang digunakan di SMA/SMK sebagaimana telah ditetapkan tepat pada waktunya. Dan Dinas Pendidikan memantau secara intensif pelaksanaan penyusunan soal USBN di MKKS,� terang Ferry. Sedangkan mata pelajaran yang di-USBN-kan untuk jenjang SMP adalah Pendidikan Agama, PPKn, dan IPS. Untuk jenjang SMA meliputi, Pendidikan Agama, PPKn, Sejarah Umum, dan tiga mata pelajaran sesuai program studi siswa. Pada SMK meliputi, Pendidikan Agama, PPKn, dan Keterampilan Komputer. �Tetapi dalam proses penyusunan soal kami hanya mendampingi kepala sekolah yang ada dalam binaan Kemendikbud, untuk Pendidikan Agama masuk dalam binaan Kementerian Agama,� kata Ferry.

KONSEP KISI-KISI SOAL

Konsep penyusunan soal USBN didasarkan pada kisi-kisi yang berupa format yang memuat informasi yang dijadikan pedoman untuk menulis soal dan merakit soal menjadi tes. Penulis yang berbeda harus menghasilkan soal yang sama baik dari segi lingkup materi, konstruksi, bahasa, maupun tingkat kesukaran. Syarat kisi-kisi soal di antaranya berupa materi yang mewakili isi kurikulum yang akan diujikan. Kemudian komponen-komponennya rinci, jelas, dan mudah dipahami, dan soal-soalnya dapat dibuat sesuai dengan indikator dan bentuk soal yang ditetapkan. Sedangkan pilihan materi, harus mencakup empat aspek. �Empat aspek itu meliputi, urgensi, kontinuitas, relevansi dan keterpakaian,� katanya.

Dalam urgensinya, lanjut Ferry, materi penting yang harus dikuasai peserta didik untuk mencapai kompetensi dasar, sedangkan pada kontinuitas, materi sebagai pendalaman dari materi sebelumnya (berkelanjutan). Aspek relevansi menjelaskan ahwa materi yang diperlukan untuk memahami materi pelajaran lain (keterkaitan), dan aspek keterpakaian menjelaskan bahwa materi yang memiliki nilai terapan tinggi dalam kehidupan sehari-hari.

KEPALA SEKOLAH ADALAH TELADAN BAGI MURID

Kegiatan ini dimaksudkan juga dalam rangka menyukseskPenguatan Pendidikan Karakter (PPK). Oleh karena itu, salah satu pembicaranya adalah Arie Budiman, Staf Ahli Mendikbud Bidang Pembangunan Karakter. Dalam paparannya, Arie menyampaikan bahwa karakter merupakan poros pendidikan. �Dan gerakan pendidikan karakter ini sebagai fondasi dan ruh utama dalam pendidikan,� ujar Arie.

Oleh karena itu, ia juga menyampaikan pesan Mendikbud Muhadjir Effendy, bahwa guru dan kepala sekolah harusmengajarkan dan meneladankan kejujuran pada murid. �Salah satu momentum terdekat yang dapat dijadikan ajang praktek kejujuran adalah saat USBN dan UN. Ujian, termasuk Ujian Nasional yang sukses adalah harus dilaksanakan dengan jujur. Tanggung jawab penyelenggaraan UN yang jujur adalah tanggung jawab bersama,� kata Arie.

Pesan Mendikbud selanjtnya, bahwa dalam menguatkan kembali peran guru dan kepala sekolah, USBN dipercayakan kepada guru untuk membuat soal dan evaluasi. �Pemerintah hanya memberikan standar dan kisi-kisi. Guru dipercaya membuat soal, harapannya guru dan kepala sekolah tidak merasa perlu membocorkan soal-soal kepada murid, percayalah bahwa murid pasti dapat mengerjakan soal,� katanya.

03 Maret 2018 Pukul 17 : 25 : 08 Last Updated by Tendik 2




Download File Berita :


Tidak ada file berita