Bimtek Program Penguatan Pendidikan Karakter Bagi Kepala Sekolah : Kepala Sekolah Mengukir Karakter Siswa

Ada peribahasa Belajar di waktu kecil seperti melukis di atas batu, belajar di waktu besar seperti melukis di atas air. Artinya seseorang yang belajar di waktu muda akan terus ingat, sedangkan belajar di waktu tua akan mudah lupa. Dalam hal pembentukan karakter, sangatlah penting untuk menanamkan sikap terpuji sejak dini karena itu akan terpatri hingga tua.

Hal itu dikatakan Drs. Suharno M Sajim, M.Si., Kasubdit Program dan Evaluasi, Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, saat membuka acara Bimbingan Teknis Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Bagi Kepala Sekolah, di Hotel Ibis Trans Studio, Bandung, Jawa Barat, Senin, 10 April 2017. Memang melukis di atas batu akan sulit, tapi akan sulit hilang,  kata Suharno di hadapan 293 peserta terdiri kepala sekolah dan pengawas sekolah.

Suharno menyatakan, pendidikan di Sekolah Dasar perlu mengutamakan pembentukan sikap atau attitude. Kejujuran, displin, peduli, empati, perlu diajarkan sejak kecil. Jika anak didik diberi pemahaman tentang sifat tersebut, maka tawuran tidak aka terjadi,  kata Suharno lagi. Dia memberi contoh, anak-anak sekolah sering mendapat perlakuan kasar dari kawannya. Ini menunjukkan pendidikan karakter belum sepenuhnya berhasil di sekolah dasar, katanya. Penguatan pendidikan karakter pada dasarnya menanamkan anak didik dengan jiwa nasionalisme, religius, integritas, gotong royong dan kemandirian. Suharno memberi contoh, ketika belajar agama, anak didik sedang mengembangkan akhlak mulia.

Para siswa juga perlu diajarkan sikap gotong royong, bukan hanya teori tetapi perlu praktik. Gotong royong mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan,  katanya melanjutkan.

Karakter berikutnya sangat penting adalah kewirausahaan atau kemadirian berusaha.

Ia berpendapat, kalangan muda sebagian besar belum mandiri. Kita tahu, saat ini peserta didik S1 dan S2 masih mentergantungkan diri pada peluang kerja, belum bisa membuat pekerjaan. Mereka bekerja juga cenderung disuruh, tidak membaca apa yang harus dikerjakan,  katanya.

Sifat mandiri harus ditanamkan untuk menghadapi bonus demografi yang dimiliki Indonesia pada 2045. Kalau pembangunan pendidikan berhasil, kita akan mendapatkan manfaat besar. Tapi kalau gagal, demografi justru akan jadi beban. Di sinilah pentingnya untuk menanamkan pendidikan karakter seperti disiplin, percaya diri, kejujuran, empati dan gotong royong. Yang paling penting bukan sekadar pengetahuan tapi harus diaplikasikan. Kalau hanya pengetahuan, maka tidak akan bisa mengubah bangsa kita,  kata Suharno mengingatkan.

Setelah acara pembukaan, peserta mendapat pengarahan dari beberapa narasumber. Sebagai pembicara pertama, Drs. Suyadi, M.Si, Inspektur Investigasi pada Inspektorat Jenderal, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tampil menjelaskan tentang perlunya penyelenggara sekolah memahami tentang Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor: 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah, yang diterbitkan pada 30 Desember 2016. Dengan memahami peraturan ini, kepala sekolah akan terhindar dari dugaan kasus pungutan liar.

Di sana dijelaskan dengan gambalang soal bantuan dan sumbangan yang tidak tergolong pungutan liar. Pasal 1 ayat 3 menyebutkan, bantuan adalah pemberian berupa uang/ barang/jasa oleh pemangku kepentingan satuan pendidikan di luar peserta didik atau orangtua/walinya, dengan syarat yang disepakati para pihak.

Pada pasal 1 ayat 5, sumbangan adalah pemberian berupa uang/barang/jasa oleh peserta didik, orangtua/walinya baik perseorangan maupun bersama-sama, masyarakat atau lembaga secara sukarela, dan tidak mengikat satuan pendidikan.

Pasal 11 menerangkan, sumbangan tidak boleh berasal dari perusahaan rokok, produsen alkohol, atau partai politik.

Suyadi mengatakan, diperlukan integritas tinggi bagi para kepala sekolah dalam mengelola keuangannya. Intergitas adalah kompetensi terpasang terkait nilai dan akuntanbilitas.

Intinya, bekerjalah dengan hati nurani,  kata Suyadi. Karakter anti pungutan liar ini juga menjadi salah satu dari penguatan pendidikan karakter yang perlu diwariskan kepada para siswa.

Dalam kesempatan itu, peserta juga mendengarkan pemaparan Dr. Arie Budhiman, M.Si, Staf Ahli Mendikbud Bidang Pembangunan Karakter. Arie Budhiman mengingatkan anak didik menghadapi tantangan berat. Saat ini, ada 132,7 juta orang Indonesia yang menggunakan internet. Sekitar 69,8 persen pelajar menggunakan internet atau 34 juta anak yang berpotensi mengakses konten negatif di internet. Di sinilah pentingnya pendidikan karakter bagi anak didik agar terhindar dari dampak negatif internet, katanya.

Arie menyatakan bahwa dunia mengalami perubahan dramatis berupa revolusi digital yang mengubah peradabandunia. Generasi emas 2045 harus dibekali keterampilan abad 21,  katanya. Penguatan pendidikan karakter perlu digalakkan sebagai gerakan pendidikan di sekolah melalui harmoni olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi) dan olah raga(kinetetik). Gerakan ini melibatkan publik dan kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

World Economic Forum, 2016 menyimpulkan adanya revolusi industri ke empat yang ditandai berkembangnya kecerdasan artifisial, robotik, dan teknologi nano. Akibat perkembangan teknologi ini, lima juta lapangan kerja diprediksi hilang sebelum 2020. Tapi di pihak lain akan muncul 2,1 juta lapangan kerja baru di bidang komputer, matematika, arsitektur, dan permesinan.

Arie menyatakan, dunia pendidikan perlu menyiapkan diri dengan kecakapan abad 21 yang terdiri dari aspek karakter, kompetensi dan literasi. Karakter yang dibutuhkan adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Literasi ditandai dengan kemampuan menerapkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Segi kompetensi diukur dari kemampuan memecahkan masalah kompleks yang dihadapi.

Jika dirinci, karakter yang dibutuhkan adalah sikap religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Literasi dasar yang harus dikuasai adalah di bidang bahasa, numerasi, sains, digital (teknologi informasi & komunikasi), finansial, budaya dan kewarganegaraan. Dari sisi kompetensi, siswa harus mampu berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif.

Semua karakter itu dipraktikkan dalam kehidupan sehari- hari siswa. Sebagai contoh, siswa membiasakan diri memulai hari dengan upacara bendera pada hari Senin, menyanyikan lagu Indonesia Raya, lagu nasional, dan berdoa bersama. Dan masih banyak contoh konkret lain yang bisa meningkatkan karakter para siswa untuk menghadapi tantangan masa depan.

03 Maret 2018 Pukul 17 : 24 : 29 Last Updated by Tendik 2




Download File Berita :


Tidak ada file berita